Asal-usul Nama Corona, Virus Pembunuh Berwujud Mahkota

679
Ilustrasi virus corona (detik.com/Dokumen National Institute of Allergy and Infectious Diseases/NIAID)

DI tengah makin mewabahnya virus corona atau oleh WHO (World Health Organization) dilabel sebagai Covid-19, bisa jadi masih ada di antara kita yang belum mengetahui asal-usul virus mematikan itu.

Dari berbagai referensi disebutkan virus corona ditemukan oleh sekelompok ahli untuk pertama kalinya pada 1968.

Virus ini terdeteksi terdapat pada mamalia dan juga unggas. Pada sapi dan babi menyebabkan diare dan pada unggas menyebabkan penyakit pernafasan. Sedangkan pada manusia, gejala mereka yang terkena virus tersebut adalah demam, wajah pucat, dan leher yang seakan tercekik karena sulitnya bernafas.

Kata corona pertama kali diperkenalkan oleh sejumlah ahli virologi dalam sebuah artikel berjudul “Coronaviruses” pada jurnal News and Views pada 1968. Dalam artikel tersebut virus berbentuk bulat itu disebutkan, “Banyak ditemukan pada unggas dan tikus.”

Jika merujuk pada “keluarga virus,” corona masuk dalam subfamily Orthocoronavirinae dalam keluarga Coronoviridae.

Nama coronavirus berasal dari Bahasa latin “corona” dan Yunani “korone” yang bermakna mahkota atau lingkaran cahaya.

Bisa ditebak penamaan ini memang tak lepas dari wujud khas virus itu, yang memiliki pinggiran permukaan yang bulat dan besar, penampilan yang mengingatkan pada “corona matahari.”

Bentuk ini tercipta oleh peplomer viral spike yang merupakan protein yang mengisi permukaan virus.

Hingga kini, menurut para ahli, belum ada obat yang secara cespleng bisa mengenyahkan virus ini selamanya. Salah satu cara yang dianjurkan oleh para ahli agar tidak terkena virus ini adalah tidak berinteraksi dengan mereka yang terkena virus.

                                                 Covid-19 atau corona?

Sejak beberapa waktu terakhir penyebutan Covid-19 untuk virus corona semakin meluas. Lalu, apa sebenarnya perbedaan Covid-19 dengan virus Corona tersebut?

Mengutip detik.com, perbedaan mendasar antara corona dan Covid-19 adalah soal pelabelannya. Corona, merupakan nama virusnya, sedangkan Covid-19 ialah nama resmi untuk penyakit yang disebabkan oleh virus corona.

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia, WHO secara resmi menamai penyakit virus corona yang pertama kali diidentifikasi di Cina pada 31 Desember itu dengan nama Covid-19.

“Kami sekarang memiliki nama untuk penyakit ini dan itu Covid-19,” kata ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada wartawan di Jenewa, seperti dikutip AFP, Selasa, 11 Februari 2020.

Tedros menjelaskan, Covid-19 yaitu singkatan dari ‘Co’ yang artinya ‘corona’, ‘Vi’ untuk ‘Virus’, dan “D” untuk ‘Penyakit (disease)’. Nama itu, menurut Tedros telah dipilih untuk menghindari referensi ke lokasi geografis tertentu, spesies hewan atau sekelompok orang sesuai dengan rekomendasi internasional untuk penamaan agar menghindari stigmatisasi.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen P2P Kemenkes Achmad Yurianto sempat menjelaskan soal Covid-19 ini. Dia menyebut Covid-19 ialah nama penyakit.

“Tanya lagi apakah bukan Covid-19? Mereka nggak tetap sebutkan virusnya, kenapa sebutan virusnya beda, nama penyakit Covid-19, penyebabnya SARS Covid tipe 2,” ujar juru bicara pemerintah terkait virus corona, Achmad Yurianto, di Kantor Kemenkes, Selasa 3 Maret 2020.

“Ini jadi pola analog, sama dengan SARS 2002, sekarang jadi flu biasa, H1N1, lama-lama jadi flu biasa,” lanjutnya.

                                 Update kasus

Virus corona yang berawal dari Wuhan, Cina terus meluas ke berbagai penjuru dunia. Data terbaru menyebutkan ada 134.812 orang terinfeksi di 128 negara, termasuk ratusan penumpang kapal pesiar Diamond Princess.

Dikutip dari Kompas.com, sedikitnya 4.984 pasien yang terinfeksi Covid-19 meninggal di seluruh dunia. Sementara itu, total pasien yang dinyatakan sembuh pun terus meningkat. Menurut data worldmeter pada Jumat pagi, 13 Maret 2020, ada 70.395 pasien yang sembuh.

Pada Kamis, 12 Meret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya menyatakan penyebaran virus corona yang meluas sebagai pandemi global. “Virus corona telah menjadi pandemi. Kami telah membunyikan alarm dengan keras dan jelas,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Rabu (11/3) dilansir dari New York Times.

Tedros menyerukan negara-negara di dunia untuk belajar dari keberhasilan satu sama lain dalam menangani virus ini.(Redaksi/dari berbagai sumber)

Apa Komentar Anda?

Komentar