YEL, dari Isu Gambut sampai ‘Orangutan Coffee’

325
AGUNG Dwinurcahya dari Yayasan HAkA memaparkan kondisi hutan Aceh hingga posisi Desember 2019 pada konferensi pers bersama Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) di Banda Aceh, Kamis 30 Januari 2020. (Dokumen YEL)
ACEHTIME.com | BANDA ACEH – Isu lingkungan hidup dan kehutanan di Aceh, khususnya di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian khusus dari masyarakat.

“Kondisi hutan di Aceh menjadi perhatian publik karena pentingnya pelestarian lingkungan untuk kehidupan manusia. Laju kehilangan tutupan hutan di KEL wilayah Aceh menurun pada 2019 dibanding 2018,” begitu antara lain informasi yang mengemuka pada konferensi pers Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA) bersama Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) di Banda Aceh, Kamis 30 Januari 2020.

Konferensi pers dipimpin oleh GIS Manager Yayasan HAkA, Agung Dwinurcahya didampingi TM Zulfikar dan Yakob Ishadamy mewakili YEL.

Di hadapan awak media, mereka mempresentasikan data hasil monitoring dari citra satelit meliputi seluruh Provinsi Aceh dan kondisi gambut di Aceh, khususnya di Rawa Tripa—sebuah kawasan yang dulu dikenal sebagai ibu kota orangutan di dunia karena kepadatan populasinya.

Koordinator YEL Aceh, TM Zulfikar mengatakan, Kawasan Ekosistem Gambut sering luput dalam diskusi perlindungan lingkungan di Aceh, padahal lahan dan rawa gambut mempunyai peran penting untuk ekonomi, tata air dan fungsi hidrologis lainnya, cadangan dan serapan karbon, keanekaragaman hayati bernilai sangat tinggi serta ilmu pengetahuan dan rekreasi.

Inisiatif Dinas LHK Aceh untuk penyusunan RPPEG (Rencana Pengelolaan dan Perlindungan Ekosistem Gambut) dinilai oleh pihak YEL adalah langkah awal untuk masa depan gambut yang lebih baik di Aceh, dan YEL berkomitmen untuk mendukung Pemerintah Aceh agar tercapainya tata kelola ekosistem gambut berkelanjutan.

YEL juga aktif melakukan pemantauan dan memfasilitasi penelitian dari dalam dan luar negeri di Stasiun Suaq Balimbing dan Sikundur serta Stasiun Reintroduksi Orangutan Jantho.

Hasil pemantauan dan penelitian tersebut merupakan data jangka panjang terkait habitat orangutan di Sumatera, khususnya Aceh, sebagai masukan penting bagi strategi konservasi dan perlindungan habitat species kunci tersebut.

Bisnis ‘Orangutan Coffee’

Sebagai upaya penyeimbang ekonomi dan konservasi yang sejalan, sejak 2010 YEL bersama mitra petani di Gayo menjalankan model bisnis ekonomi berbasis konservasi ‘Orangutan Coffee”.

Saat ini, ‘Orangutan Coffee dapat dinikmati di 207 warung kopi yang tersebar di Eropa, Amerika Serikat, Canada, Australia, dan Jepang.

‘Orangutan Coffee adalah kopi arabica gayo organik, dengan pembagian keuntungan untuk program konservasi habitat orangutan dan peningkatan penerimaan bagi petani kopi dari setiap kilogram kopi yang dipasarkan.

Orangtan Coffee Lab. (Tribun Medan)

Daftar Merah Specis Terancam

Dijelaskan, Orangutan Sumatera (Pongo abelii) berbeda dengan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), dan juga berbeda dengan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanulienses) yang habitatnya berada di ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara.

Saat ini, kata TM Zulfikar hanya sekitar 13.400 Orangutan Sumatera dan kurang dari 800 Orangutan Tapanuli yang tersisa di alam liar.

International Conservation Union (IUCN) memasukkan ketiga spesies orangutan tersebut dalam “Daftar Merah Species Terancam”.

Program Konservasi Orangutan Sumatera (www.sumatranorangutan.org) adalah program kolaborasi dari PanEco Foundation yang berbasis di Swiss (www.paneco.ch), mitranya di Indonesia Yayasan Ekosistem Lestari dan Ditjen KSDAE (www.ksdae.menlhk.go.id) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.(Redaksi/Rilis YEL/HAkA)

Apa Komentar Anda?

Komentar