Pahlawan Informasi Bencana Itu Telah Tiada

240
SUTOPO PURWO NUGROHO (ALMARHUM)
ACEHTIME.com – “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.Telah Berpulang ke rahmatullah Bapak Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB pada hari Minggu, 07 Juli 2019, sekitar pukul 02.20 waktu Guangzhou atau sekitar pukul 01.20 WIB.”

Berita duka tersebut menyebar cepat sepanjang pagi hingga siang, Minggu 7 Juli 2019. Nuansa berkabung langsung saja menyelimuti negeri ini, terutama pada keluarga besar, lembaga, dan aktivis kebencanaan, tak terkecuali di Aceh.

Informasi yang diterima Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBA, Sutopo yang akrab disapa Pak Topo meninggal dunia saat sedang menjalani pengobatan penyakit kanker yang dideritanya di St. Stamford Modern Cancer Hospital, Guangzhou, China, sejak 15 Juni 2019. Kanker yang dideritanya telah menyebar ke tulang dan beberapa organ vital tubuh. “Kita merasa sangat kehilangan,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), HT Ahmad Dadek SH.

Sejak beliau divonis kanker pada akhir Desember 2017, beliau masih terus gigih dalam melakukan upaya pengobatan maupun dalam menginformasikan berbagai kejadian bencana di Indonesia selama 2018 hingga pertengahan 2019. Bahkan beliau masih sempat melakukan konferensi pers secara bersinambungan pada saat terjadi bencana gempabumi Lombok dan gempabumi Palu di tengah rasa sakit yang menderanya.

Berikut sekilas data termasuk pendidikan, keluarga, dan perjalanan karier beliau sebagaimana dikutip dari laman wikipedia.org yang disunting terakhir pada 7 Juli 2019.

Dr. Sutopo Purwo Nugroho, M.Si., APU (lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 7 Oktober 1969 – meninggal di Guangzhou, Tiongkok, 7 Juli 2019 pada umur 49 tahun).

Jabatan terakhir beliau hingga meninggal dunia adalah Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB yang dijabatnya sejak November 2010.

Hasil pernikahannya dengan Retno Utami Yulianingsih SH, pasangan ini memiliki dua anak yaitu Muhammad Ivanka Rizaldy Nugroho dan Muhammad Aufa Wikantyasa Nugroho.

Sutopo merupakan alumni Universitas Gajah Mada dan Institut Pertanian Bogor. Ia bekerja di pemerintahan sebelum ia akhirnya ditempatkan di BNPB pada 2010 sebagai Direktur Pengurangan Risiko Bencana.

Sutopo lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 7 Oktober 1969. Ia merupakan anak pertama Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari. SD, SMP, dan SMA ia jalani di kampung halamannya.

Ia memperoleh gelar S-1 geografi di Universitas Gadjah Mada pada 1993, dan ia menjadi lulusan terbaik di sana pada tahun itu. Ia memeroleh gelar S2 dan S3 di bidang hidrologi di Institut Pertanian Bogor.

Menurut sebuah wawancara Sutopo nersama dengan detik.com, ia hampir menjadi profesor peneliti pada 2012 tapi dikandaskan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia karena statusnya sebagai peneliti Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi (BPPT) yang bekerja di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Pada 2016, ketika Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengkritik lembaga penanganan bencana provinsi, Sutopo malah membenarkan kata-kata gubernur tersebut dengan mengatakan bahwa kritik tajam itu mustilah dianggap sebagai kritik yang membangun.

Pada tahun berikutnya, setelah Ahok ditangkap dan ditahan karena kasus penistaan agama, Sutopo menggunakan akun Twitternya untuk memuji secara terbuka keberhasilan Basuki dalam menekan banjir Jakarta.

Pada Januari 2018, Sutopo mengumumkan ia mengidap kanker paru-paru stadium IV dan masih berada di bawah tahap perawatan. Keluarga dan dokternya telah memintanya untuk berhenti beraktivitas, namun ia menolak, meskipun sakit. Karenanya ia juga terpaksa pakai morfin. Ia juga masih tetap bersemangat dan tak pernah surut, terutama jika berbicara dengan wartawan.

Ia diketahui masih aktif memantau bencana di media sosial, menyediakan informasi, dalam berbagai kejadian, seperti waktu tenggelamnya KM Sinar Bangun dan gempa Lombok pada 2018.

Selamat jalan Pak Topo. Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadahmu dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.(*/redaksi)

Apa Komentar Anda?

Komentar