AJI Kecam Keputusan Presiden Memberi Remisi Pembunuh Jurnalis

241


ACEHTIME.com – Keputusan Presiden Jokowi memberikan remisi terhadap I Nyoman Susrama, terpidana pembunuh jurnalis Harian Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra pada 2010 lalu memicu kekecewaan komunitas pers.

Sebelumnya sempat berkembang isu Susrama mendapat grasi dari presiden namun hal itu dibantah oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly.

“Itu bukan grasi, remisi perubahan. Remisi,” kata Yasonna menegaskan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 23 Januari 2019, sebagaimana dilansir tempo.co.

Menurut Politikus PDI perjuangan tersebut, Susrama mendapat remisi karena berkelakuan baik, telah menjalani masa tahanan selama 10 tahun dari vonis seumur hidup, dan umurnya kini 60 tahun.

”Jadi itu remisi perubahan, dari seumur hidup menjadi 20 tahun, berarti kalo dia sudah 10 tahun ditambah 20 tahun jadi 30 tahun (dipenjara),” kata Yasonna.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI) Banda Aceh, Misdarul Ihsan dalam siaran pers-nya yang diterima acehtime.com menulis, Susrama diadili karena kasus pembunuhan terhadap Prabangsa, 9 tahun lalu.

Pembunuhan itu terkait dengan berita-berita dugaan korupsi yang ditulis Susrama di Harian Radar Bali.

Hasil penyelidikan polisi, pemeriksaan saksi dan barang bukti di persidangan menunjukkan Susrama adalah otak di balik pembunuhan itu.

Ia diketahui memerintahkan anak buahnya menjemput Prabangsa di rumah orangtuanya di Taman Bali, Bangli, 11 Februari 2010.

Prabangsa dibawa ke halaman belakang rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli.

Di sanalah ia memerintahkan anak buahnya memukuli dan akhirnya menghabisi Prabangsa.

Dalam keadaan bernyawa Prabangsa dibawa ke Pantai Goa Lawah, tepatnya di Dusun Blatung, Desa Pesinggahan, Kabupaten Klungkung.

Prabangsa lantas dibawa naik perahu dan dibuang ke laut. Mayatnya ditemukan mengapung oleh awak kapal yang lewat di Teluk Bungsil, Bali, lima hari kemudian.

Berdasarkan data AJI, kasus Prabangsa adalah satu dari banyak kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia.

Kasus Prabangsa adalah satu dari sedikit kasus yang sudah diusut.

Menurut catatan AJI, setidaknya ada delapan kasus lainnya belum tersentuh hukum, di antaranya Fuad M Syarifuddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogya (1996), pembunuhan Herliyanto, wartawan lepas Harian Radar Surabaya (2006), kematian Ardiansyah Matrais, wartawan Tabloid Jubi dan Merauke TV (2010), dan kasus pembunuhan Alfrets Mirulewan, wartawan Tabloid Mingguan Pelangi di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya (2010).

Berbeda dengan lainnya, kasus Prabangsa diproses hukum dan pelakunya divonis penjara.

Dalam sidang Pengadilan Negeri Denpasar 15 Februari 2010, hakim menghukum Susarama dengan memvonis penjara seumur hidup sedangkan delapan orang lainnya yang ikut terlibat, juga dihukum dari 5 hingga 20 tahun.

Upaya mereka untuk banding tak membuahkan hasil. Pengadilan Tinggi Bali menolak upaya ke-9 terdakwa, April 2010. Keputusan ini diperkuat oleh hakim Mahkamah Agung pada 24 September 2010.

Kini Presiden Joko Widodo dengan dasar Kepres No. 29 Tahun 2018 memberi keringanan hukuman kepada Susrama.

Terkait dengan keputusan tersebut, AJI menyatakan sikap:

1. Mengecam kebijakan Presiden Joko Widodo yang memberikan remisi kepada pelaku pembunuhan keji terhadap jurnalis. Fakta persidangan jelas menyatakan bahwa pembunuhan ini terkait berita dan pembunuhannya dilakukan secara terencana. Susrama sudah dihukum ringan karena jaksa sebenarnya menuntut dengan hukuman mati, tapi hakim mengganjarnya dengan hukuman seumur hidup;

2. Kebijakan presiden yang mengurangi hukuman itu melukai rasa keadilan tidak hanya keluarga korban, tapi jurnalis di Indonesia;

3. Meminta Presiden Joko Widodo mencabut keputusan presiden pemberian remisi terhadap Susrama. Kami menilai kebijakan semacam ini tidak arif dan memberikan pesan yang kurang bersahabat bagi pers Indonesia. AJI menilai, tak diadilinya pelaku kekerasan terhadap jurnalis, termasuk juga memberikan keringanan hukuman bagi para pelakunya, akan menyuburkan iklim impunitas dan membuat para pelaku kekerasan tidak jera, dan itu bisa memicu kekerasan terus berlanjut.(*/rel)

Apa Komentar Anda?

Komentar