Dua Mantan Kombatan GAM Ungkap Ketidakadilan yang Dirasakan SMPN 2 Idi Tunong

746
Ketua Komite SMPN2 Idi Tunong, Junaidi Alias Bungong U.

ACEHTIME.com | ACEH TIMUR – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Kecamatan Idi Tunong di pedalaman Kecamatan Idi Tunong, Kabupaten Aceh Timur, berjarak sekitar tiga kilomter arah selatan Desa Buket Itam, Kecamatan Darul Ikhsan, kondisinya sangat memiriskan akibat kekurangan sarana dan prasarana, termasuk tenaga pendidik.

Pantauan ACEHTIME.com ke lokasi sekolah, Kamis (26/7/2018) pagi, selain kekurangan guru, kondisi fisik sekolah juga terlihat bagaikan bangunan tak bertuan. Konon, sejak dibangun pada 2012, dengan jumlah murid 58 orang, sekolah itu hanya memiliki dua guru PNS (termasuk kepala sekolah) ditambah 10 guru bakti.

Rapat Wali Murid SMPN 2 Idi Tunong, Kamis (26/7/2018).

Persolan kurangnya tenaga pegajar yang berstatus guru PNS menjadi sesuatu yang paling krusial dirasakan oleh wali murid sekolah itu. “Sejak sekolah ini berdiri tahun 2012 hanya mengandalkan dua guru PNS. Seyogyanya sekolah ini didukung 10 guru PNS sehingga mutu pendidikan di pedalaman dapat kita tingkatkan menjadi lebih baik,” kata Ketua Komite SMPN 2 Idi Tunong, Junaidi alias Bungong U (41) kepada ACEHTIME.com.

Junaidi yang merupakan mantan kombatan GAM menyebutkan, panambahan guru PNS di SMPN 2 Idi Tunong menjadi sesuatu yang prioritas jika sehingga mutu pendidikan di pedalaman bisa bersaing dengan sekolah-sekolah di perkotaaan. “Hari ini kita melihat guru PNS menumpuk di perkotaan saja. Sepertinya pemerintah melalui dinas terkait menutup mata dengan realita memprihatinkan di sekolah-sekolah pedalaman, seperti di SMPN 2 Idi Tunong ini, “ ujar Junaidi.

Dalam penilaian Junaidi, perhatian pemerintah terhadap sekolah di pedalaman terkesan masih sebatas retorika bahkan seperti dianaktirikan. Padahal, katanya, anggaran negara sudah sangat banyak dikucurkan untuk meningkatkan mutu pendidikan, tetapi terkesan anggaran yang besar itu hanya milik sekolah di perkotaan saja. :Sedangkan di pedalaman seperti sekolah di daerah kami bertahun-tahun dibiarkan terpuruk,” ujar Junaidi mengisyaratkan pentingnya keadilan dalam segala hal, apalagi menyangkut pendidikan.

Hal senada juga dikatakan oleh mantan Ketua Komite SMPN 2 Idi Tunong, Anwar alias Nago (45) yang juga mantan kombatan GAM.

Menurut Nago, selain kekurangan guru PNS, fisik bangunan sekolah yang dibangun tahun 2012 tersebut juga mulai rusak akibat kendala biaya perawatan. Kondisi itu terlihat dari banyaknya loteng yang mulai bolong, teras lokal yang mulai rusak, mobiler lokal dan kantor guru yang sangat memprihatinkan serta pagar sekolah yang butuh sentuhan pembagunan.

Baik Nago maupun Junaidi serta wali murid di sekolah tersebut sangat mengharapkan kepedulian Pemkab Aceh Timur untuk menambah kuota guru PNS di SMPN 2 Idi Tunong sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan. “Jangan karena sekolah kami di pedalaman, lantas kurang mendapat perhatian. Anak kami di pedalaman adalah anak negeri Indonesia juga yang ingin berprestasi seperti anak-anak di perkotaan. Kalau memang tak mampu menyediakan guru untuk apa sekolah dibuka lebih baik tutup saja,” tandas Nago dibenarkan rekannya, Junaidi.

Menurut kedua mantan kombatan GAM tersebut, pemerintah telah mengganggarkan dana yang besar untuk pembangunan gedung sekolah yang tujuannya untuk mencerdaskan anak bangsa. Namun setelah gedung tersedia, giliran tenaga pengajar tidak ada. “Ini sangat aneh, karena kita ketahui banyak guru bidang studi yang membutuhkan jam mengajar untuk sertifikasi menumpuk di sekolah-sekolah perkotaan saja, sementara sekolah pedalaman seperti ini, tidak ada yang mau mengajar. Pemerintah seharusnya bersikap tegas melaksanakan program pemerataan guru, bukan hanya retorika,” timpal Junaidi.

                                                                     Membenarkan

Kepala Bidang Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan Aceh Timur, Saiful Basri, MPD yang dihubungi ACEHTIME.com membenarkan SMPN 2 Idi Tunong masih kekurangan guru. “Kita mengakui sekolah itu masih kekurangan guru PNS dan dalam waktu dekat ini kita akan melakukan evaluasi tehadap guru-guru PNS yang akan kita tempatkan ke sekolah tersebut,” kata Saiful.

Saiful juga mengakui masih banyak terjadi penumpukan guru PNS bidang studi di sekolah-sekolah tertentu. Ke depan hal ini tidak boleh lagi terjadi sehingga persoalan kekurangan guru PNS di sekolah-sekolah pedalaman bisa segera teratasi. “Apalagi dalam waktu dekat ada penerimaan PNS untuk guru. Insya Allah ke depan sekolah-sekolah pedalaman mendapat guru PNS lebih banyak,” demikian Saiful Basri. (IL)

Apa Komentar Anda?

Komentar