Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat untuk RI Bertemu Presiden Jokowi, Ini Permintaannya

264
Pertemuan Nyak Sandang dengan Presiden Jokowi di Istana Negara, Rabu (21/3/2018). Foto setkab.go.id

ACEHTIME.com | Jakarta – Keinginan Nyak Sandang untuk bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya terwujud. Presiden menerima Nyak Sandang di Istana Merdeka, Rabu (21/3/2018) sekitar pukul 18.25 WIB.

Nyak Sandang datang ditemani dua orang anaknya, Maturidi dan Khaidar. Mereka terbang dari Aceh, Selasa (20/3/1018).

“Ini Pak Jokowi, Ayah. Dia senang sekali bisa bertemu Presiden,” kata Maturidi menerjemahkan Nyak Sandang yang selama berbincang dengan Presiden menggunakan bahasa Aceh.

Dalam pertemuannya dengan Kepala Negara, Nyak Sandang mengutarakan beberapa permohonan kepada Presiden. Salah satunya mengenai bantuan untuk operasi katarak.

“Baik nanti saya uruskan untuk kataraknya. Katarak kan operasi ringan, besok tolong dicek ke rumah sakit untuk kataraknya,” jawab Presiden.

Selain itu, Sandang yang kini berusia 91 tahun meminta agar dibuatkan masjid di kampungnya di Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Presiden pun menjawab bahwa nanti akan dikirimkan tim untuk mengecek kondisi di sana.

Permintaannya yang ketiga adalah untuk menunaikan ibadah haji. “Ingin naik haji. Kalau bisa tahun ini, karena sudah tua,” lanjut Maturidi menyampaikan maksud sang ayah.

Terkait hal ini, Presiden mengatakan dirinya akan mengupayakan dan berkoordinasi dengan Menteri Agama. Sambil menunggu kepastian keberangkatan haji, Presiden menawarkan untuk umrah terlebih dahulu.

“Mengingat haji kan ada antreannya, nanti saya bicarakan dengan Menteri Agama,” kata Presiden.

Nyak Sandang kemudian menunjukkan bukti obligasi Pemerintah Indonesia tahun 1950 yang dimilikinya kepada Presiden Jokowi.

Seperti diketahui, Nyak Sandang adalah salah satu orang yang ikut andil menyumbangkan harta kekayaannya untuk membeli pesawat pertama Indonesia.

Hal ini berawal dari tahun 1948 saat Presiden Sukarno berkunjung ke Aceh gmencari dana untuk pembelian pesawat pertama setelah Indonesia merdeka. Nyak Sandang yang kala itu berusia 23 tahun bersama orang tuanya menjual sepetak tanah dan 10 gram emas. Hartanya yang dihargai Rp100 pun diserahkan kepada negara.

Presiden Sukarno pun menerima sumbangan dari masyarakat Aceh sebanyak SGD 120 ribu dan 20 kg emas murni untuk membeli dua pesawat terbang yang diberi nama Seulawah R-001 dan Seulawah R-002. Dua pesawat tersebut merupakan cikal bakal maskapai Garuda Indonesia Airways.

Di pengujung perbincangan, Nyak Sandang pun berterima kasih kepada Presiden.

“Terima kasih Bapak Presiden sudah punya waktu untuk kami,” begitu kata Nyak Sandang. (setkab.go.id)

Apa Komentar Anda?

Komentar