Luar Biasa, Wali Kota Banda Aceh Akan Bawa Ulama Belajar Bioskop dan Konser Musik ke Arab Saudi

819
Sumber Foto: https://www.caricariinfo.com

ACEHTIME.com | Banda Aceh – Pertanyaan masyarakat mengenai boleh tidaknya pergelaran konser musik terutama pada malam hari dan soal bioskop yang sudah lama tidak dibuka di Banda Aceh, ditanggapi oleh Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman dengan mengatakan, “Setiap ada permohonan izin konser musik di Banda Aceh, kami senantiasa meminta rekomendasi dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) dan pihak keamanan. Jika sudah ada rekom dari keduanya tidak masalah, terutama rekomendasi dari ulama yang menjadi pertimbangan kami.”

Aminullah menambahkan, “beberapa waktu kami juga telah membahas hal tersebut (konser dan bioskop) dengan para ulama dan pihak terkait lainnya. Kesimpulannya kami sepakat untuk melakukan studi banding bersama ulama kita ke Arab Saudi atau negara islam lainnya untuk mempelajari bagaimana pengaturan soal konser musik dan bioskop di sana.”

Tanggapan Wali Kota Banda Aceh terkait konser musik dan bioskop disampaikan pada ‘Program Wali Kota Menjawab’ yang disiarkan secara langsung oleh 10 radio swasta di Banda Aceh, Jumat, 16 Maret 2018.

Dikutip dari laman http://diskominfo.bandaacehkota.go.id, pada ‘Program Wali Kota Menjawab’ edisi Jumat, 16 Maret 2018 tersebut, Wali Kota Aminullah Usman didampingi Wakil Wali Kota Zainal Arifin, Kadis Syariat Islam Mairul Hazami, dan Tgk Syukri Daod Pango sebagai narasumber utama. Di antara tamu undangan turut hadir Sekda Banda Aceh Bahagia beserta para pejabat di lingkungan Pemko Banda Aceh serta sejumlah ulama seperti Tgk Umar Rafsanjani, Tgk Zainun, dan Ustaz Jol Arafah.

Program berdurasi 1,5 jam itu membuka kesempatan bagi warga kota untuk berdialog interaktif melalui telepon di nomor 08116888945  dan juga layanan WhatsApp. Melalui program itulah, seorang warga kota bertanya soal boleh tidaknya pergelaran konser musik terutama pada malam hari. Penelepon lainnya bertanya soal bioskop yang sudah lama tidak dibuka di Banda Aceh.

Masih menanggapi pertanyaan soal konser musik, Wali Kota Banda Aceh juga mengatakan, “Sebagai perbandingan, baru-baru ini saya membaca berita di Arab Saudi baru digelar festival jazz. Nah, dari hasil studi banding nanti baru kita putuskan bersama ulama, dan kita akan sesuiakan dengan penerapan Syariat Islam dan adat istiadat serta budaya kita di sini.”

Wakil Wali Kota Zainal Arifin juga juga tak mau tinggal diam. Pria yang akrab disapa Keuchik Zainal tersebut menambahkan, Pemko Banda Aceh sangat komit dalam penegakan syariat Islam. “Tidak ada tawar-menawar soal syariat Islam. Penegakannya tidak akan kita kendurkan sedikitpun. Kami juga selalu menggandeng ulama dalam membangun kota ini.”

Wakil Wali Kota menambahkan, “Soal bioskop, konser musik, dan hal-hal lainnya kami akan selalu bersandar pada keputusan ulama. Termasuk soal rencana pendirian Rumah Sakit Siloam. Insya Allah Pemko Banda Aceh tidak akan memberi izin jika mudaratnya lebih besar dari pada manfaatnya bagi masyarakat.”

Seorang warga yang ikut mendengarkan siaran langsung “Wali Kota Menjawab” tersebut memberikan tanggapan melalui ACEHTIME.com. “Luar biasa sekali Pak Wali Kota Banda Aceh. Beliau akan membawa ulama untuk studi banding soal biskop dan konser musik ke Arab Saudi,” kata warga tersebut dengan menambahkan, “Apakah sudah terlalu penting bioskop dan konser musik hingga harus membawa ulama belajar ke Arab Saudi dan negara Islam lainnya? Kalaupun memang ada rencana menggelar konser musik atau membuka bioskop, kan bisa meminta langsung pendapat ulama kita di sini, pasti akan ada petunjuk bagaimana konser atau bioskop yang sesuai syariat Islam.”

Mengapa ke Arab Saudi?

Seperti banyak diberitakan, Pemerintah Arab Saudi mengumumkan akan membuka kembali bioskop di negara tersebut setelah lebih dari 35 tahun dilarang beroperasi.

Kementerian Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi menuturkan, inovasi ini merupakan bagian dari reformasi sosial yang dilaksanakan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, putra Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud.

Sumber Foto: https://www.caricariinfo.com

Kerajaan tersebut mempromosikan hiburan sebagai bagian dari perubahan sudut pandang yang diimplementasikan, dikenal dengan Vision 2030, meski mendapat tentangan dari kalangan konservatif.

Kelompok garis keras, yang melihat bioskop sebagai ancaman terhadap identitas budaya dan agama Kerajaan Arab Saudi, adalah salah satu faktor penyebab ditutupnya bioskop pada 1980-an.

Petinggi dari kelompok tersebut dengan gamblang menyebut tentang “kebejatan” bioskop dan bioskop bisa merusak moral. Namun pihak berwenang sepertinya mengabaikan perlawanan itu.

Bioskop film ditutup pada 1980-an di Arab Saudi saat gelombang ultrakonservatisme melanda kerajaan ini. Banyak ulama Arab Saudi berpandangan, film-film Barat–dan bahkan film-film Arab buatan Mesir–membuat penontonnya berdosa.

Namun, sejak Mohammed bin Salman naik jadi putra mahkota, ia terus mendorong perubahan sosial yang lebih besar.

Keberanian yang dilakukannya antara lain mencabut larangan mengemudi bagi wanita Saudi, mengizinkan penyelenggaraan konser musik, serta memperbolehkan segala bentuk hiburan demi memuaskan keinginan generasi muda.

Pewaris takhta berusia 32 tahun tersebut juga telah mencari cara untuk meningkatkan belanja daerah dan menciptakan lapangan kerja di tengah harga minyak yang menukik turun.

Menurut kabar yang dilansir The Independent, bioskop pertama diperkirakan akan dibuka pada bulan Maret 2018.(tim)

 

Apa Komentar Anda?

Komentar