Luar Biasa Pembelaan Turki Saat Belanda Melarang Bangsa Aceh Berhaji

643

ACEHTIME.com – Sejarah mencatat bagaimana kuatnya hubungan persahabatan antara Turki dengan Aceh yang terbangun sejak berabad-abad lampau.

Sebuah sinetron berjudul “Payitaht Abdülhamid” menggambarkan kisah pembelaan Kekhilafahan Utsmaniyah terhadap bangsa Aceh ketika Belanda melarang umat Islam dari negeri ini melaksanakan ibadah haji.

Sebagaimana dikutip dari dakwatuna.com, film sinetron berjudul “Payitaht Abdülhamid” tersebut menggambarkan kisah pembelaan Kekhilafahan Utsmaniyah terhadap Aceh.

Dikisahkan, Sultan Abdul Hamid II menerima surat dari muslim di Aceh. Dalam surat itu, rakyat Aceh menyampaikan tentang perlakuan penjajah Belanda yang sudah kelewat batas. Penjajah tidak mengizinkan mereka untuk ibadah haji. Mereka menyampaikan persoalan tersebut kepada Sultan dengan harapan mendapat pembelaan.

Mendengar hal itu, Sultan Abdul Hamid II pun marah. Di akhir cuplikan film, tampak adegan Sultan memanggil duta besar Belanda untuk memperjuangkan hak rakyat Aceh agar dapat beribadah haji. Dalam adegan itu terlihat bagaimana ‘kerdil’-nya sang duta besar berhadapan dengan Sultan Abdul Hamid II yang tegas membela kepentingan saudaranya sesama muslim di Aceh.

Sinetron yang ditayangkan di stasiun televisi nasional Turki, TRT 1. adalah film yang mengisahkan tentang perjuangan Sultan Abdul Hamid II untuk mempertahankan keberlangsungan Kekhilafahan Utsmaniyah (Ottoman).

Agar Anda bisa lebih fokus mengikuti adegan demi adegan sinetron tersebut, tim ACEHTIME.com menampilkan secara khusus beberapa bagian cuplikan teks bahasa Indonesia dari sinetron episode ke-15 berdurasi 9 menit 8 detik itu. (Redaksi ACEHTIME.com)

Petikan dialog antara Sultan Abdul Hamid II dengan Pasha (pejabat utama dalam sistem kekhilafahan Utsmaniyyah).

(Sultan Abdul Hamid II –21 September 1842-10 Februari 1918–adalah sultan (khalifah) ke-34 yang memerintah Daulah Khilafah Islamiyah Turki Utsmani).

Pasha: Sultanku, ada surat yang datang dari saudara muslim kita di Aceh.

Sultan: Muslim di Aceh adalah bagian dari tanggung jawab kita. Dalam sejarah Aceh selalu mencoba mendaftarkan diri sebagai bagian dari wilayah Khilafah Utsmaniyyah tetapi tidak diterima.

Pasha: Kenapa tidak diterima, Sultanku?

Sultan: Adalah sesuatu yang sangat sulit bagi Utsmani untuk membangun wilayah di tengah-tengah samudra, ketika ada penyerangan akan mengambil banyak waktu untuk pertahanan. Kebesaran negara Islam menjadi mudah untuk diserang. Belanda selalu melakukan penyerangan. Apa yang mereka sudah tulis (surat dari Aceh), tolong bacakan Pasha.

Pasha: (Membacakan surat dari Aceh). “Yang berkekuatan lagi mempunyai kudrat, khalifah Islam, Sultan Abdul Hamid. Kami warga Aceh bersandar kepada Utsmani yang menjadi pelabuhan terakhir kami dari para zalim. Kami juga melihat Khalifah Abdul Hamid sebagai Bapak kami sendiri. Sekarang perlakuan terakhir Belanda yang sedang menjajah negara kami sudah kelewatan batas. Kafir Belanda tidak mengizinkan kami untuk bisa pergi haji. Masalah kami ini sebelumnya kami beritahukan kepada Allah, kemudian kepada khalifah kami.”
(Tiba-tiba Sultan Abdul Hamid berdiri dari duduknya dan menggebrak meja meluapkan kemarahan saat mendengar bunyi surat yang dibacakan oleh Pasha).

Sultan: Bagaimana kita bisa menjadi layak untuk ‘makam’ (gelar khalifah) ini wahai Pasha. Walaupun kita bekerja siang malam untuk bisa layak mendapatkan makam ini, tetap saja kita tidak bisa memenuhi haknya. Ketika Muslim di Aceh berada di kondisi seperti ini, ketika mereka (Belanda) menyerang agama kita.

Pasha: Sultanku, Belanda tidak hanya menghalangi warga Aceh pergi haji. Bendera bulan sabit juga harus diturunkan. Mereka (Belanda) juga melarang membacakan khutbah dengan bernamakan Khilafah Utsmaniyyah. Tetap saja warga Aceh sudah bersumpah dan berkomitmen bersama Khalifah Utsmaniyyah. Mereka bilang tidak pernah mendengarkan larangan-larangan Belanda.

Sultan: Selagi kekuatan kita cukup, kita harus selalu berada di samping mereka.

Pasha: Sultanku, untuk sekarang masalah terbesarnya adalah (bangsa Aceh) tidak boleh berpergian haji.

Sultan: Kita buat proyek ‘Demiryolu’ (jalur kereta api ke Madinah). Dari Istanbul ke Hijaz. Dari sana ke Baghdad dan akan menyambung ke India dan dari sana juga dengan kapal ke pulau Aceh.

Pasha: Sayang sekali Sulatnku, sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk orang-orang Aceh yang akan berpergian haji. Hatiku sakit Sultanku, hatiku sakit Sultanku. Inggris dan Jerman mengatakan tidak akan membantu dalam proyek jalan kereta api ini.

Sultan: Pasha, Pasha, buang jauh-jauh keputusasaanmu. Impikan, selama kita impikan pasti akan tersampaikan. Kita adalah anak-anak Islam yang mempertahankan identitas, jiwa dan iman umat dan segala pergaduhan, segala perperangan, dan segala sabotase.

Pasha: Tapi kita bahkan masih belum bisa membawa saudara Aceh kita pergi ke Mekkah.

Sultan: Kita akan bawa mereka Pasha, kita akan bawa mereka. Tolong panggilkan Duta Besar Belanda kepada saya.

Pasha: Baik Sultanku.

Sultan: Apakah kalian (Belanda) tidak akan memberi izin Muslim di Aceh pergi haji?

Dubes Belanda: Memberi izin agar mereka bisa masuk ke masjid juga?

Sultan: Saya anak khalifah Islam Sultan Abdul Majid Sultan Abdul Hamid. Makam kekhalifahan saya adalah untuk berkhidmat kepada umat Islam! Nyawa saya sebagai bayarannya! Kalian akan membuka satu perusahaan. Perusahaan itu akan menghantar Muslim Aceh melalui kapal dengan harga yang rendah ke Mekkah.

Duber Belanda: Saya mengerti setiap perkataan Anda, Sultanku.

Selengkapnya, nonton video berikut:

Apa Komentar Anda?

Komentar