BFLF Gencarkan Sosialisasi Penggalangan Dana Pendampingan untuk Keluarga Pasien

224
ARADHI KARIM

ACEHTIME.com | Banda Aceh – Program berobat gratis yang dinikmati masyarakat Aceh pada khususnya telah memberikan dampak signifikan di bidang kesehatan. Namun, di lapangan masih banyak ditemukan warga yang enggan membawa anggota keluarga yang sakit ke pusat-pusat pelayanan kesehatan—apalagi harus dirujuk ke rumah sakit kabupaten/kota maupun provinsi—karena tidak punya kemampuan secara ekonomi.

Permasalahan itu diungkapkan Ketua Blood for Life Foundation (BFLF) Kota Subulussalam, Aradhi Karim, SE dalam siaran pers-nya yang diterima ACEHTIME.com di Banda Aceh, Minggu (11/3/2018). BFLF adalah sebuah organisasi yang bergerak secara sukarela dalam bidang sosial dan kesehatan yang salah satu fokus kegiatan sosialnya adalah membantu masyarakat yang membutuhkan darah.

 

Dalam bidang kesehatan, menurut Radhi, begitu laki-laki ini akrab disapa, layanan berobat gratis sudah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Namun kenyataan yang ditemukan di lapangan masih ada warga yang enggan membawa anggota keluarga mereka berobat ke rumah sakit.

“Kasus seperti ini masih banyak kami temui di lapangan. Alasan keluarga masuk akal karena mereka tak punya kemampuan jika harus mendampingi pasien di rumah sakit, apalagi kalau harus dirujuk sampai ke rumah sakit di provinsi (Banda Aceh),” kata Radhi.

Menurut Radhi, jika relawan BFLF menemukan kasus seperti ini langsung direspons dan mendiskusikannya di tingkat pengurus. Jika memang diputuskan untuk pendampingan, maka pengurus akan menyebarkan informasi itu melalui berbagai media (termasuk di grup WhatsApp) yang anggotanya dari lintas organisasi bahkan pejabat pemerintahan.

“Kita koordinasi dengan dinas terkait termasuk dengan pihak rumah sakit dan dokter yang menangani. Jika memang harus dirujuk dan memerlukan perawatan, kita akan hitung berapa dana yang dibutuhkan untuk anggota keluarga yang mendampingi. Setelah itu barulah kita sebarkan ke grup medsos atau donatur lainnya. Biasanya, dalam tempo singkat langsung terkumpul bantuan dana untuk kebutuhan pendampingan pasien,” kata Radhi.

Masih terkait dengan pendampingan, BFLF Pusat di Banda Aceh juga menyediakan rumah singgah untuk kepentingan pasien yang masih proses berobat jalan. “Insya Allah dengan dukungan semua pihak, relawan BFLF Pusat maupun yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Aceh siap melaksanakan tugas di bidang sosial dan kesehatan,” tandas Radhi yang juga tercatat sebagai relawan komunikasi RAPI Kota Subulussalam dengan callsign JZ01YAK.

Pada bagian akhir pernyataannya, Radhi juga berharap ke depan Pemerintah Provinsi bersama Pemerintah Kabupaten/Kota memberikan perhatian khusus dengan mengalokasikan dana pendampingan pasien agar program berobat gratis bisa lebih maksimal realisasinya.

“Kita tak ingin melihat kenyataan di lapangan ada warga yang pasrah membiarkan anggota keluarganya terbaring sakit di rumah karena alasan tak ada uang kalau harus mendampingi ke rumah sakit. Kasus pasien pascaoperasi yang terpaksa pulang dengan L-300 dari Banda Aceh ke Subulussalam tanpa ongkos juga harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua,” demikian Aradhi Karim.(rilis/ril)

Apa Komentar Anda?

Komentar