Kisah Pilot ‘Eagle One’ Saat Memutuskan Mendarat Darurat dari Ketinggian 2.000 Kaki

415
Pesawat pribadi Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf menjelang dievakuasi dari lokasi pendaratan darurat di Pantai Lam Awe, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Sabtu (17/2/2018) sore.

ACEHTIME.com – “Jika ketinggian pesawat 6.000 kaki, maka dalam keadaan mesin padam, pesawat masih bisa meluncur sejauh 47 kilometer. Jika 2.000 kaki bisa lima kilometer…”

Kutipan penjelasan di atas diutarakan Gubernur Irwandi Yusuf pada konferensi pers di Pendopo Gubernur Aceh di Banda Aceh, Sabtu (17/2/2018) malam atau beberapa jam setelah pesawat yang dipilotinya, ‘Eagle One’ mendarat darurat di Pantai Lam Awe, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Sabtu sore sekitar pukul 15.15 WIB.

Dalam konferensi pers tersebut, Irwandi menceritakan, pendaratan darurat itu terjadi ketika dia bersama Asisten II Pemerintah Aceh, Taqwallah sedang dalam penerbangan kembali dari kunjungan kerja ke Calang, Aceh Jaya untuk landing di Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar.

Ternyata pada penerbangan Sabtu sore itu, pesawat jenis Aero Shark  buatan Slovakia tersebut  sempat dua kali mati mesin. Yang pertama ketika ‘Eagle One’ berada di atas wilayah Leupung, Aceh Besar pada ketinggian 3.500 kaki.

“Mesin mendadak ngadat (mati) karena bahan bakarnya tidak naik. Saya tahu bahan bakarnya tidak naik karena putaran baling-baling mulai lemah atau menurun. Bunyi pesawat seperti kita dorong mobil mogok yang nggak hidup-hidup, bahan bakarnya ada tapi kering,” kata Irwandi.

Sambil terus berusaha menormalkan aliran bahan bakar, Irwandi sempat memberitahukan kepada Taqwallah kalau mesin pesawat ada masalah. “Kita harus mendarat darurat,” kata Irwandi memberitahukan Taqwallah yang duduk di belakangnya sambil menunjuk ke arah pantai.

Sebelum langkah darurat dilakukan, ternyata mesin pesawat kembali normal. Irwandi menurunkan ketinggian di atas 2.000 kaki dan berusaha untuk terus mengarah ke Lanud SIM.

Ketika berada di atas Lhoknga, Irwandi melaporkan posisinya ke petugas Air Traffic Control (ATC) Bandara SIM sambil memberitahukan akan landing melalui run way 17 dari arah laut.

Namun yang terjadi kemudian ternyata mesin pesawat kembali padam. Irwandi pun melaporkan kondisi yang dihadapinya ke petugas ATC. “Petugas ATC sempat bertanya mau bagaimana. Saya bilang tetap mau landing di SIM walaupun mesin mati tetap bisa meluncur,” kata Irwandi.

Tetapi rencana Irwandi untuk tetap meluncurkan ‘Eagle One’ ke Bandara SIM dalam kondisi mesin mati dibatalkannya. Karena, kata Irwandi, menurut ilmu kedirgantaraan jika ketinggian pesawat di 6.000 kaki, dalam keadaan mesin padam, pesawat masih bisa meluncur sejauh 47 kilometer.  Sedangkan jika ketinggian 2.000 kaki hanya bisa mencapai lima kilometer.

“Jarak Bandara SIM dengan posisi saya waktu itu masih lima mil lagi atau sekitar sembilan kilometer. Sudah pasti saya tak bisa mencapainya dalam kondisi mesin pesawat mati. Makanya saya langsung menghubungi menara pengawas minta izin mendarat darurat di sebelah selatan Pantai Ulee Lheue,” kata Irwandi.

Seperti diketahui, pesawat bermesin tunggal itu sukses melakukan pendaratan darurat di Pantai Lam Awe, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Sang pilot bersama seorang penumpangnya, Taqwallah selamat tanpa cidera meski beberapa bagian pesawat mengalami kerusakan. Pascainsiden itu, Irwandi memimpin langsung proses evakuasi pesawatnya. Sedangkan Taqwallah memberikan keterangan pers terkait kunjungan kerja ke Aceh Jaya. (*)

Apa Komentar Anda?

Komentar