Hujan Es di Subulussalam, Mengapa Bisa Terjadi?

689

ACEHTIME.com – SABTU, 10 Februari 2018, wilayah Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam diguyur hujan es.

Fenomena hujan es bukan yang pertama terjadi di Kota Subulussalam. Bahkan pada 2012 sempat berulang-ulang dalam rentang waktu beberapa hari.

Lalu, kenapa bumi bisa diguyur hujan es? Penjelasan yang dihimpun ACEHTIME.com dari berbagai sumber berikut ini semoga bisa menjawab pertanyaan itu sehingga fenomena alam ini tidak menjadi misteri yang akhirnya dihubungkan dengan hal-hal yang menyimpang, apalagi sampai dikait-kaitlkan dengan hal-hal mistis.

+++

Di dalam ilmu meteorologi hujan es disebut hail. Hail atau hujan es adalah presipitasi yang terdiri atas bola-bola es. Salah satu pembentukan dari bola- bola es ini adalah melalui kondensasi uap air lewat proses pendinginan di atmosfer pada sebuah lapisan yang terdapat di atas level beku.

Biasanya, hanya es yang berukuran besar saja yang terjadi dengan proses seperti ini. Karena ukurannya yang besar, sehingga meski es sudah turun ke suhu yang lebih hangat dan daerah lebih rendah, tidak semua es ini menjadi cair (mencair).

Perlu diketahui, hujan es ini tidak hanya bisa turun di daerah subtropis saja, namun dapat terjadi di daerah sekitar garis ekuator atau daerah pembagian musim tropis, termasuk di Indonesia.

Hujan es ini biasanya terjadinya tidak terlalu kelihatan, dan terjadinya disertai dengan hujan air. Hujan es ini biasanya terjadi hanya sekitar beberapa menit saja, kemudian setelah itu akan kembali ke hujan air normal seperti biasanya.

Penyebab terjadinya hujan es

Jika kita mengamati proses terjadinya hujan air, maka kita akan mengetahui bahwa hujan air bisa terjadi karena adanya penguapan air laut yang kemudian menjadi awan yang mengandung air, dan selanjutnya air tersebut turun menjadi jatuhan- jatuhan yang disebut dengan hujan.

Namun apakah hal ini sama dengan yang menyebabkan hujan es? Ternyata tidak terlalu berbeda. Salah satu yang menyebabkan terjadinya hujan es adalah pembekuan.

Butiran es yang jatuh saat hujan es merupakan kondensasi dari air hujan yang menggumpal di atas permukaan bumi yang disebut dengan awan gelap.

Hujan es yang biasanya disertai dengan angin puting beliung ini berasal dari jenis jenis awan yang memiliki sel tunggal berlapis-lapis dekat dengan permukaan bumi. Selain itu dapat pula berasal dari multi sel awan, pertumbuhannya ini secara vertikal dan luas area horisontalnya sekitar 3 -5 kilometer.

Hujan es terjadi dengan durasi yang sangat singkat, antara 3 hingga 5 menit. Hujan es yang paling lama adalah dengan durasi 10 menit, dan itupun sangat jarang terjadi.

Maka biasanya huja es ini sifatnya lokal dan tidak merata. Jenis yang berlapis- lapis ini menjulang arah vertikal hingga ketinggian lebih dari 30.000 kaki. Jenis awan yang bentuknya berlapis-lapis menyerupai kembang kol ini disebut dengan awan Cumulo Nimbus atau CB yang juga merupakan musuh terbesar para pilot pesawat.

Proses terjadinya hujan es

Air yang banyak tersimpan dalam satu wadah yang dinamakan samudera, sungai, danau, rawa, dan lain sebagainya. Air tersebut akan mengalami penguapan atau disebut dengan evaporasi melalui bantuan sinar matahari.

Proses penguapan air (khususnya dari tumbuh- tumbuhan) dinamakan transpirasi. Uap air yang dihasilkan dari penguapan tersebut akan mengalami pemadatan atau kondensasi yang kemudian menjadi awan. Kemudian awan- awan tersebut bergerak sendiri-sendiri ke tempat yang berbeda-beda dengan bantuan angin, baik angin yang berembus vertikal maupun horisontal.

Awan yang mengandung uap air tertiup dan sampailah pada tempat yang suhunya lebih dingin dan mencapai dew point atau titik embun. Karena beratnya embun ini maka turunlah menjadi titik- titik hujan.

Ketika telah mengembun, sudah menjadi air dan tertiup oleh angin thermis yang naik ke ketinggian yang memiliki temperatur di bawah titik beku, maka  embun tersebut akan berubah menjadi es yang akan jatuh ke bawah. Fenomena inilah yang disebut hujan es, seperti di Kota Subulussalam.(*)

Apa Komentar Anda?

Komentar