Tempat Pembuangan Sampah Terbesar Amerika Latin di Brasil Ditutup

174
Seorang pemulung tengah bekerja di kawasan pembuangan sampah Lixao da Estrutural. Tempat tersebut dianggap sebagai tempat pembuangan sampah terbesar di Amerika Selatan dengan total menampung 50 juta ton sampah.(Sergio LIMA/AFP)

ACEHTIME.com – Pemerintah ibu kota Brasil, Brasilia, mengumumkan bakal menutup tempat pembuangan sampah terbesar Amerika Latin yang ada di negara mereka.

Kawasan pembuangan sampah Lixao da Estrutural ada ketika Brasilia dibangun pada 21 April 1960.

Hingga saat ini, kawasan tersebut telah menampung sekitar 50 juta ton sampah, atau 1.000 ton diproduksi setiap harinya.

Dilaporkan BBC Jumat (18/1/2018), Gubernur Brasilia, Rodrigo Rollemberg, menyatakan telah membuka pembuangan sampah yang jauh dari pusat kota.

Rollemberg berkata, adanya Estrutural merupakan luka yang harus secepatnya disembuhkan dari Brasilia.

Selain itu, dia mengaku kasihan dengan para pemungut sampah yang hidup di sana selama bertahun-tahun hingga tiga generasi.

“Mereka harus mempertaruhkan hidup mereka demi sebuah pekerjaan yang tidak bermartabat,” kata Rollemberg.

Rollemberg melanjutkan, dia menjanjikan para pemungut sampah untuk bekerja di fasilitas daur ulang sampah dengan gaji dan kondisi tempat yang lebih baik.

Ajakan Rollemberg disikapi berbeda oleh catadores de lixo, atau para pemulung. Sebagian ada setuju dan siap berpindah.

Namun, banyak juga yang menyatakan keberatan. Sebab, jika berpindah, maka potensi menerima penghasilan besar bisa hilang. Salah satunya adalah Evando Souza.

Jika kondisinya tengah bagus, pria 32 tahun tersebut menerangkan bakal membawa pulang uang 3.000 reais Brasil, atau Rp 12,5 juta, per bulan.

Jumlah tersebut tiga kali lipat lebih banyak dari upah minimum yang dijanjikan Rollemberg.

“Lebih baik saya pulang ke rumah saya di Maranhao bersama keluarga saya,” kata Souza yang telah memulung selama lima tahun terakhir dilansir Reuters.com.

Hal yang sama juga disuarakan oleh Valdir Dutra yang berada di sana sejak 16 tahun lalu.

“Rollemberg tidak memberikan solusi lain. Jelas kami tidak bisa bertahan dengan bayaran yang sangat kecil,” keluh.(Kompas)

Apa Komentar Anda?

Komentar